TawafSai

Catatan Perjalanan ke Thaif: Menelusuri Jejak Sabar Dakwah Nabi ﷺ, Alam Sejuk, dan Miqat Qarnul Manazil

4 Oktober 2026 · Tim TawafSai

Di tengah hamparan gurun pasir tandus Jazirah Arab yang panas menyengat, terdapat sebuah kota peristirahatan pegunungan yang sangat sejuk, hijau, dan dipenuhi semerbak aroma wangi mawar merah. Kota itu adalah Thaif, sebuah kota bersejarah yang terletak di kawasan Pegunungan Sarawat, sekitar 75 hingga 90 kilometer di sebelah timur Kota Suci Makkah Al-Mukarramah. Berada pada ketinggian lebih dari 1.800 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut, Thaif sering dijuluki sebagai "Puncak-nya Arab Saudi" karena udaranya yang dingin menyegarkan, pemandangan lembah berkabut, serta tanahnya yang sangat subur ditumbuhi buah delima, anggur, dan bunga mawar.

Bagi jamaah umrah Indonesia, ziarah ke Thaif bukan sekadar wisata alam pelepas penat di sela-sela padatnya rutinitas ibadah di Makkah, melainkan sebuah safari ruhani yang sangat menyentuh hati: menelusuri kembali jejak kesabaran tanpa batas Baginda Nabi Muhammad ﷺ dalam menyampaikan risalah tauhid di masa-masa terberat dakwah beliau. Selain itu, Thaif juga memiliki nilai syar'i yang sangat strategis karena memiliki titik Miqat Qarnul Manazil (As-Sailul Kabir) bagi jamaah yang ingin menunaikan ibadah umrah sunnah kedua atau ketiga. Artikel ini menyajikan catatan perjalanan lengkap ke Thaif, napak tilas sejarah, rute wisata alam, serta panduan fikih berihram dari Thaif.

1. Napak Tilas Sejarah: Jejak Ketabahan di Kota Thaif

Sekitar sepuluh tahun setelah masa kenabian, Rasulullah ﷺ mengalami masa-masa duka yang sangat mendalam yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Paman tercinta beliau, Abu Thalib yang selalu membela beliau dari ancaman kafir Quraisy, wafat. Tak lama kemudian, istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha yang senantiasa menenangkan jiwa dan mengorbankan seluruh hartanya demi dakwah, juga berpulang ke haribaan Ilahi. Tekanan dan intimidasi kaum musyrikin Makkah semakin merajalela.

Dalam kondisi yang sangat terjepit, Rasulullah ﷺ berjalan kaki bersama anak angkatnya, Zaid bin Haritsah, menempuh jalur pegunungan terjal menuju Thaif dengan harapan para pemimpin kabilah Bani Tsaqif bersedia menerima risalah Islam dan memberikan perlindungan.

Namun, kenyataan pahit menyambut beliau:

  • Para pembesar Thaif menolak dakwah beliau dengan hinaan dan caci maki yang keji.
  • Mereka menghasut anak-anak muda, orang-orang bodoh, dan para budak untuk berbaris di sepanjang jalan sempit seraya melempari tubuh mulia Rasulullah ﷺ dengan batu hingga kaki beliau berlumuran darah dan Zaid terluka parah saat melindungi kepala Nabi.
  • Beliau akhirnya berlindung di sebuah kebun anggur milik dua bersaudara Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, terengah-engah dan bersandar di bawah rindangnya pohon anggur seraya memanjatkan doa munajat yang paling menyayat hati dalam sejarah peradaban:

"Allahumma ilaika asyku dhu'fa quwwati, wa qillata hilati, wa hawani 'alan-nas..."
(Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, sedikitnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas...)

Perjumpaan Berkah dengan Addas

Melihat kepedihan Nabi ﷺ, pemilik kebun mengutus pelayan kristen mereka bernama Addas untuk membawakan sepiring anggur. Saat hendak memakannya, Nabi ﷺ mengucapkan: "Bismillah". Ucapan itu mengejutkan Addas yang berasal dari Ninawa (negeri Nabi Yunus AS). Setelah berdialog singkat tentang kenabian, Addas tersungkur memeluk dan mencium kaki serta kepala Rasulullah ﷺ seraya menyatakan keimanannya kepada Islam. Di lokasi bersejarah inilah kini berdiri Masjid Addas, sebuah masjid kecil yang tenang dan dinaungi pepohonan hijau yang selalu dikunjungi jamaah.

Keteguhan Memilih Pemaafan

Di saat yang sama, Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung turun dan menawarkan: "Wahai Muhammad, jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung besar (Gunung Abu Qubais dan Qu'aiqi'an) untuk menghancurkan penduduk Thaif sampai binasa!"

Namun, apa jawaban Baginda Nabi yang berhati samudra rahmat itu? Beliau menolak tawaran tersebut dan bersabda dengan penuh kelembutan:
"Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Doa penuh kasih itu terjawab nyata: kini seluruh penduduk Thaif hidup dalam naungan cahaya Islam. Menziarahi Thaif akan menampar kesombongan kita dan mengajarkan arti keikhlasan, keteguhan hati, dan memaafkan orang yang menyakiti kita.

2. Destinasi Populer dan Wisata Alam di Thaif

Setelah menelusuri jejak sejarah di Masjid Addas dan Masjid Ibnu Abbas (makam sahabat ahli tafsir Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma), nikmatilah pesona alam kota pegunungan ini:

  • Pabrik dan Perkebunan Mawar Taif (Al-Kadi Rose Factory): Thaif terkenal sebagai produsen minyak wangi mawar (rose water) nomor satu di dunia Arab. Bunga mawar pegunungan yang harum disuling secara tradisional menjadi minyak esensial mewah dan air mawar pembersih wajah. Anda dapat melihat proses penyulingan dan membeli parfum non-alkohol serta sabun mawar asli berkualitas tinggi.
  • Kereta Gantung Teleferik dan Puncak Al-Hada: Menikmati sensasi menaiki kereta gantung (cable car) dari puncak Gunung Al-Hada menuju lembah Al-Kar. Dari atas kabin gantung, Anda dapat menyaksikan jalur jalan raya berkelok-kelok (hairpin roads) yang membelah tebing-tebing cadas spektakuler khas pegunungan Arab.
  • Pasar Buah Segar Pegunungan: Di sepanjang jalanan kota Thaif, pedagang lokal menjajakan buah-buahan segar hasil panen lokal: delima manis yang renyah, buah tin segar, anggur manis, buah kaktus berduri (prickly pear / barshumi) yang manis menyegarkan, serta madu hutan asli Yaman dan Thaif.

3. Mengambil Umrah Sunnah di Miqat Qarnul Manazil

Kunjungan ke Thaif memiliki bonus syar'i yang luar biasa. Saat bus rombongan hendak bertolak kembali menuju Makkah:

  • Bus akan melintasi Miqat Qarnul Manazil (As-Sailul Kabir).
  • Bagi jamaah yang ingin menunaikan umrah sunnah kedua atau ketiga, Anda dapat mandi dan mengenakan kain ihram sejak dari hotel di Thaif atau di fasilitas Masjid Miqat As-Sailul Kabir yang sangat megah dan lengkap.
  • Niatkan ihram umrah di miqat ini: "Labbaikallāhumma 'umratan".
  • Setibanya kembali di Makkah malam harinya, langsung menuju Masjidil Haram untuk menuntaskan tata cara tawaf dan sa'i hingga tahalul.

4. Tips Praktis Melakukan Ziarah ke Thaif

  1. Kenakan Pakaian Hangat: Suhu di puncak Al-Hada Thaif pada sore dan malam hari bisa mencapai 12°C hingga 16°C. Selalu bawa jaket tebal atau sweater di dalam tas harian Anda.
  2. Siapkan Obat Anti Mabuk Perjalanan: Jalan raya dari Makkah mendaki pegunungan Thaif memiliki tanjakan curam dan tikungan tajam berkelok. Bagi yang mudah mabuk darat, minumlah obat anti-mual sebelum bus berangkat.
  3. Bawa Uang Saku Riyal Tunai: Membeli buah segar delima dan minyak mawar di kios pasar tradisional pinggir jalan lebih praktis menggunakan uang tunai Riyal pecahan kecil. Simak panduannya di uang saku umrah dan kartu SIM.

Ziarah ke Thaif akan memperkaya lembaran spiritual perjalanan ibadah Anda, menghubungkan rasa cinta Anda kepada perjuangan Rasulullah ﷺ, serta menyegarkan kembali fisik Anda sebelum pulang ke tanah air. Pelajari juga panduan lengkap rukun dan wajib umrah serta doa-doa mustajab tawaf dan sa'i.