Menunaikan ibadah umrah untuk pertama kali adalah pengalaman spiritual yang sangat mendebarkan sekaligus membahagiakan. Dua rukun inti yang menjadi puncak pelaksanaan umrah fisik di Masjidil Haram adalah tawaf dan sa'i. Bagi jamaah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pelataran Ka'bah, suasana lautan manusia dan megahnya arsitektur Masjidil Haram bisa menimbulkan rasa cemas dan bingung mengenai arah putaran, posisi memulai, serta bacaan doa yang harus dilafalkan.
Panduan ini disusun secara komprehensif agar Anda memiliki gambaran visual dan pemahaman fikih yang matang sebelum memasuki Masjidil Haram. Tawaf dan sa'i bukan sekadar aktivitas fisik mengelilingi bangunan atau berjalan bolak-balik di antara dua bukit, melainkan perwujudan kepasrahan total dan zikir tanpa henti seorang hamba kepada Rabb-nya.
Persiapan Sebelum Memasuki Pelataran Tawaf (Mataf)
Sebelum melangkah ke pelataran tawaf (mataf), ada beberapa ketentuan pokok yang wajib dipenuhi oleh setiap jamaah:
- Bersuci dari Hadas Kecil dan Besar: Berdasarkan mazhab Syafi'i yang menjadi pedoman mayoritas jamaah Indonesia, suci dari hadas kecil maupun hadas besar (memiliki wudu) adalah syarat sah tawaf sebagaimana halnya salat. Jika wudu Anda batal di tengah-tengah putaran tawaf karena bersentuhan kulit atau buang angin, Anda harus berwudu kembali dan melanjutkan hitungan putaran yang belum selesai.
- Menutup Aurat dengan Benar: Bagi laki-laki, aurat adalah antara pusar hingga lutut. Pastikan kain ihram bawah terpasang kuat menggunakan sabuk ihram. Bagi wanita, seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
- Memakai Pakaian Ihram dengan Tertib: Khusus jamaah laki-laki pada saat tawaf umrah, disunnahkan melakukan idtiba', yaitu membuka pundak sebelah kanan dengan menyelipkan ujung kain ihram atas di bawah ketiak kanan dan meletakkan kedua ujungnya di atas pundak kiri.
- Mempersiapkan Alas Kaki dan Titik Kumpul: Lepas sandal sebelum menginjak karpet atau lantai marmer masjid. Masukkan sandal ke dalam kantong serut kecil yang Anda bawa sendiri di tas selempang kecil. Jangan lupa mencatat atau memotret nomor pintu masuk masjid terdekat (misalnya Pintu King Abdulaziz atau Babussalam) sebagai patokan titik kumpul rombongan.
Tata Cara Melaksanakan Tawaf 7 Putaran
Tawaf secara bahasa bermakna mengelilingi. Dalam istilah syariat, tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 putaran penuh berlawanan dengan arah jarum jam, dengan Ka'bah senantiasa berada di sebelah kiri jamaah.
1. Titik Awal: Garis Hajar Aswad
Setiap putaran tawaf wajib dimulai dan diakhiri persis sejajar dengan sudut Hajar Aswad. Di pelataran mataf, sudut ini ditandai dengan lampu neon hijau terang di dinding masjid yang sejajar lurus dengan Hajar Aswad. Saat Anda berada di garis awal:
- Hadapkan tubuh Anda atau condongkan sedikit ke arah Hajar Aswad.
- Angkat tangan kanan ke arah Hajar Aswad (beristilam) dan ucapkan: "Bismillahi Allahu Akbar", lalu kecup telapak tangan kanan Anda.
- Berniatlah dalam hati untuk melaksanakan tawaf umrah semata-mata karena Allah Ta'ala.
- Di tengah kepadatan jamaah, jangan pernah memaksakan diri untuk mendekat atau mencium batu Hajar Aswad secara fisik jika harus berdesak-desakan, menyakiti sesama muslim, atau membatalkan wudu. Isyarat lambaian tangan sudah sepenuhnya mencukupi sunnah Nabi ﷺ.
2. Posisi Ka'bah Selalu di Sebelah Kiri
Begitu melangkah dari garis awal, putar tubuh Anda menghadap ke depan sehingga posisi Ka'bah selalu berada di sebelah kiri pundak Anda. Berjalanlah dengan tenang dan hindari membelakangi Ka'bah atau menolehkan seluruh dada ke arah lain secara sengaja saat berjalan, karena dada harus tetap mengarah lurus searah putaran tawaf.
3. Memperhatikan Hijr Ismail
Di sisi utara Ka'bah terdapat area setengah lingkaran yang dibatasi tembok pendek marmer putih yang disebut Hijr Ismail. Perlu dicatat dengan sangat teliti: Hijr Ismail adalah bagian dari Ka'bah. Oleh karena itu, putaran tawaf wajib dilakukan dari luar pembatas Hijr Ismail. Jika seorang jamaah memotong jalur dengan menerobos lewat bagian dalam Hijr Ismail, putaran tersebut tidak sah dan harus diulang dari garis Hajar Aswad.
4. Sunnah Ramal (Jalan Cepat) bagi Laki-Laki
Pada tiga putaran pertama tawaf umrah, jamaah pria disunnahkan melakukan ramal, yaitu berjalan agak cepat dengan langkah-langkah pendek, seraya menggoyangkan pundak tanpa melompat. Pada putaran keempat hingga ketujuh, jamaah berjalan santai seperti biasa. Namun, jika pelataran mataf sangat padat dan tidak memungkinkan untuk jalan cepat tanpa menabrak jamaah lain, sunnah ini boleh ditinggalkan demi menjaga ketertiban dan keselamatan bersama.
5. Melewati Rukun Yamani
Rukun Yamani adalah sudut Ka'bah sebelum Hajar Aswad. Ketika melintas sejajar dengan Rukun Yamani, jamaah disunnahkan beristilam (mengusap jika mampu, atau melambaikan tangan) tanpa mengecup tangan. Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, bacalah doa sapu jagat yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ:
"Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban-nar." (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka).
6. Menuntaskan Putaran Ketujuh dan Amalan Setelahnya
Putaran ketujuh tuntas ketika Anda kembali sejajar dengan garis Hajar Aswad. Setelah itu:
- Rapikan kembali kain ihram Anda (tutuplah pundak kanan Anda kembali, sehingga posisi idtiba' berakhir).
- Melangkah mundur menjauhi arus mataf menuju belakang Maqam Ibrahim (tempat berpijak Nabi Ibrahim AS saat membangun Ka'bah).
- Laksanakan salat sunnah tawaf 2 rakaat. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas. Jika area sekitar Maqam Ibrahim terlalu penuh sesak, salat sunnah ini sah dilakukan di sudut mana pun di dalam Masjidil Haram.
- Berdoa di Multazam (dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah) jika situasi memungkinkan, atau berdoa dengan menghadap Ka'bah dari kejauhan dengan linangan air mata dan memohon ampunan sebesar-besarnya.
- Menuju tempat penyediaan air zamzam. Minumlah air zamzam sambil berdiri dan menghadap kiblat seraya berdoa memohon kesehatan, rezeki yang berkah, dan ilmu yang bermanfaat.
Tata Cara Melaksanakan Sa'i 7 Putaran
Setelah menyelesaikan tawaf dan meminum air zamzam, jamaah bersiap menuju tempat sa'i yang dinamakan Mas'a. Sa'i adalah rukun umrah berikutnya berupa berjalan kaki bolak-balik antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali lintasan.
1. Memulai dari Bukit Safa
Sa'i wajib dimulai dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwah. Ketika mendekati bukit Safa, bacalah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 158:
"Innas-shafa wal-marwata min sya'a'irillah..." (Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah).
Naiklah ke pelataran bukit Safa hingga Anda dapat memandang ke arah Ka'bah (jika terlihat dari lantai dasar atau lantai 1). Angkat kedua tangan seperti posisi berdoa, bertakbir tiga kali (Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar), bertahlil, dan panjatkan doa hajat pribadi Anda.
2. Berjalan Menuju Marwah
Mulailah berjalan santai menuruni Safa menuju bukit Marwah. Jarak satu lintasan dari Safa ke Marwah adalah sekitar 400 meter. Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung sebagai lintasan pertama.
Di tengah jalur sa'i, Anda akan melihat area yang diterangi lampu neon berwarna hijau terang di langit-langit (kurang lebih sepanjang 50-60 meter). Khusus jamaah laki-laki disunnahkan berlari-lari kecil (harwalah) dengan kecepatan sedang di antara kedua pilar hijau tersebut. Bagi jamaah wanita, tetaplah berjalan biasa dengan anggun dan tenang.
3. Sampai di Bukit Marwah
Setibanya di bukit Marwah, satu lintasan telah selesai. Berdirilah menghadap kiblat ke arah Ka'bah, angkat tangan, bertakbir, dan berdoalah seperti yang Anda lakukan di bukit Safa.
Selanjutnya, kembalilah berjalan dari Marwah menuju Safa. Perjalanan dari Marwah ke Safa dihitung sebagai lintasan kedua. Lakukan hal yang sama hingga lintasan ketujuh selesai di bukit Marwah:
- Lintasan 1: Safa ke Marwah
- Lintasan 2: Marwah ke Safa
- Lintasan 3: Safa ke Marwah
- Lintasan 4: Marwah ke Safa
- Lintasan 5: Safa ke Marwah
- Lintasan 6: Marwah ke Safa
- Lintasan 7: Safa ke Marwah (berakhir di sini)
Total jarak tempuh sa'i adalah sekitar 2,8 kilometer. Jika jamaah lansia, sakit, atau membawa anak kecil mengalami kelelahan, Masjidil Haram menyediakan fasilitas penyewaan skuter listrik di lantai atas serta kursi roda resmi berseragam hijau di lantai dasar.
Menyempurnakan Umrah dengan Tahalul
Setelah melangkah keluar dari lintasan ketujuh di bukit Marwah, rukun umrah disempurnakan dengan tahalul, yaitu memotong atau mencukur rambut:
- Bagi Laki-Laki: Boleh memotong pendek sebagian rambut (taqsir), tetapi mencukur habis rambut hingga gundul (halq) jauh lebih utama dan didoakan ampunan tiga kali oleh Rasulullah ﷺ.
- Bagi Perempuan: Cukup memotong ujung rambut sepanjang satu ruas jari (sekitar 2–3 cm) oleh sesama mahram atau diri sendiri secara tertutup.
Dengan terlaksananya tahalul, maka seluruh rangkaian umrah Anda telah tuntas dan seluruh larangan ihram telah gugur.
Kesalahan Umum yang Wajib Dihindari
Agar ibadah Anda terjaga kesuciannya, perhatikan kekeliruan yang kerap terjadi pada jamaah pemula:
- Ragu Hitungan Putaran: Jika Anda ragu apakah baru menyelesaikan 4 atau 5 putaran, ambillah angka terkecil (yaitu 4 putaran) lalu genapkan hingga 7 putaran. Menggunakan cincin counter digital di jari tangan sangat membantu.
- Berhenti Mendadak di Arus Putaran: Jangan pernah berhenti tiba-tiba di tengah arus tawaf atau berswafoto (selfie), karena dapat membahayakan keselamatan jamaah di belakang Anda dan merusak konsentrasi ibadah.
- Memotong Lewat Hijr Ismail: Selalu pastikan Anda melingkar di luar tembok pembatas Hijr Ismail.
- Melakukan Tahalul Sebelum Sa'i Tuntas: Jangan melepas kain ihram atau memotong rambut sebelum tujuh lintasan sa'i benar-benar genap di bukit Marwah.
Untuk memahami bacaan zikir pada setiap putaran, pelajari selengkapnya di panduan doa tawaf dan sa'i. Bagi Anda yang sedang merencanakan keberangkatan perdana, simak juga panduan umrah pertama kali serta ketentuan titik miqat jamaah Indonesia agar persiapan Anda semakin matang dan penuh berkah.
